MADIUN – Pertemuan rutiin rintisan PPAH (Petani Pengembang Agens Hayati), yang merupakan cikal bakal produsen agens hayati dan biopestisida lainya di kota madiun. mereka diharapkan mampu memenuhi kebutuhan petani baik berupa produk maupun ilmu terapan tentang pengendalian hama dan penyakit tumbuhan dengan menggunakan agens hayati sehingga mendorong petani kota madiun untuk semakin peduli lingkungan sekaligus menghasilkan produk atau bahan bebas dari residu pertisida kimia.

”Apakah yang dimaksud dengan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)?”. Organisme pengganggu tanaman adalah semua organisme baik dari jenis hama maupun penyakit yang dapat merusak dan menurunkan hasil produksi sehingga menimbulkan kerugian secara ekonomi pada tanaman yang dibudidayakan.

Disadari bahwa pemakaian pestisida, khususnya pestisida sintetis ibarat pisau bermata dua. Selain memiliki manfaat yang besar, tak bisa dipungkiri, bahaya pestisida semakin nyata dirasakan masyarakat petani. Terlebih akibat penggunaan pestisida yang tidak bijaksana.

Ketika musuh alami mengalami kematian akibat aplikasi pestisida. Ada serangga hama lain yang awalnya bukan hama sasaran/utama populasinya akan meningkat, karena musuh alami yang awalnya mampu menjaga kepadatan populasinya selalu rendah menjadi tidak ada, atau kepadatan populasinya tidak lagi mampu mengendalikannya, maka kondisi ini sering dikenal sebagai ledakan hama sekunder.

Akibat penggunaan pestisida yang kurang bijaksana yang telah disebutkan diatas, maka sangat perlu untuk dilakukan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Salah satunya adalah dengan cara pengendalian hayati. Pengendalian OPT ramah lingkungan dengan cara pengendalian  hayati merupakan upaya pengendalian yang lebih aman dibandingkan dengan pengendalian menggunakan pestisida.

Pengendalian OPT secara hayati merupakan salah satu komponen dalam pengendalian hama secara terpadu (PHT), dimana dengan cara hayati diharapkan terjadi keseimbangan dalam ekosistem, sehingga keberadaan OPT tidak menimbulkan kerugian secara ekonomis. Dengan pengelolaan ekosistem yang baik, peran musuh alami dapat dimaksimalkan untuk mencegah timbulnya eksplosi OPT.

Agens Pengendali Hayati adalah setiap organisme yang dalam semua tahap perkembangannya dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dalam proses produksi, pengolahan hasil pertanian dan berbagai keperluannya.

Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Provinsi Jawa Timur yang bertugas di Wilayah Kota Madiun ” Yeni Trias Kurniawati, SP ” menyatakan bahwa pengendalian hayati adalah pengendalian serangga hama dengan cara biologi, yaitu dengan memanfaatkan musuh-musuh  alaminya (agen pengendali biologi).

Agensia hayati merupakan sarana pengendalian OPT yang sebenarnya telah tersedia di suatu ekosistem, tetapi seringkali keberadaannya pada tingkat yang tidak memadai, hal ini menyebabkan populasi OPT cenderung semakin meningkat. Ketersediaan agens pengendali hayati yang memadai pada suatu ekosistem, sangat menentukan keberhasilan usaha pengendalian OPT.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan pengembangan agens pengendali hayati baik ditingkat petani maupun ditingkat laboratorium, sehingga keseimbangan dalam ekosistem dapat terjaga dan hasil produksi diharapkan dapat meningkat. (Eddy/Admn/Dispertan)

Categories: Berita