SOSIALISASI MAKAN B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman)

Duta Keamanan Pangan
Penyerahan hadiah oleh bapak Walikota Madiun
anak anak sedang menunjukan kreasi yel yel B2SA

MADIUN- anak – anak merupaka generasi penerus bangsa, untuk itu sudah saatnya kita mempersiapkan anak-anak kita menjadi generasi yang sehat dan kreatif serta berahklak mulia, sehingga anak-anak kita kelak akan cerdas dan berprestasi. dengan adanya sosialisasi makanan B2SA ( Beragan, Bergizi, Seimbang dan Aman ) di harapkan anak anak tau makana yang mengandung roda min b, borak dan yang tidak baik untuk di konsumsi, 8/5/2018 kata Ir. Muntoro Danardono Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Madiun dalam acara pembukan sosialisasi B2SA.

Setiap sekolah Dasar di Kota Madiun sudah di bentuk Duta Keamanan Pangan yang tugasnya sebagai pengawas dan monev tentang jajanan yang ada di sekolahan, dengan adanya sosialisasi B2SA ini diharapakan bisa mengedukasi siswa sekolah dasar tentang jajanan yang sehat dan layak di konsumsi yang bebas dari roda min b, borak dan lain-lain.

” Nantinya di setiap sekolah dasar yang ada di Kota Madiun setiap tahunnya akan di uji sampel ” Kata Kabid Katahanan Pangan Sumini SP.

” Sebab survey membuktikan bahwa 90 persen kualitas kesehatan manusia tergantung pada kuaalitas konsumsi makanan sehari-harinya ” pungkasnya.

edyy/adm/DPKP.

JAMBORE KETAHANAN PANGAN HARI Ke 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tanggal,  3 Mei 2018

Asrama Haji Kota Madiun

By Eddy Admin………

JAMBORE KETAHANAN PANGAN HARI KE 1

Dalam rangka untuk meningkatkan Ketahanan Pangan di Kota Madiun Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Madiun mengadakan kegiatan Jambore Ketahanan Pangan, Dalam Undang-Undang No 7 Tahun 1996 tentang Pangan, ketahanan pangan didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap masyarakat yang tecermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, terjangkau, dan berbasis pada keragaman sumber daya lokal. Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri dari subsistem ketersediaan, distribusi, dan konsumsi. Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, baik dari segi kuantitas, kualitas, keragaman, maupun keamanannya. Subsistem distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien untuk menjamin seluruh rumah tangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu dengan harga yang terjangkau. Subsistem konsumsi berfungsi mengarahkan pola pemanfaatan pangan secara nasional agar memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, kemananan, dan kehalalannya. Definisi ketahanan pangan ada empat komponen yang harus dipenuhi untuk mencapai kondisi ketahanan pangan, yaitu :

1) Kecukupan ketersediaan pangan,

2) Stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun,

3) Aksesibilitas dan keterjangkauan terhadap pangan, serta

4) Kualitas keamanan pangan.

 

Tanggal, 2 -3 Mei 2018

Asrama Haji Kota Madiun

By Eddy Admin …….

 

KELOMPOK TANI KOTA MADIUN STUDI BANDING ke Desa Besur Kec. Sekaran Kab Lamongan

Petani di Desa Besur, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, kini mulai meninggalkan pertanian pestisida kimia. Caranya, 50 persen pupuk yang digunakan beralih ke pupuk organik.
Praktik mengurangi ketergantungan terhadap pestisida ini sudah ditinggalkan selama dua tahun berjalan.

Hasilnya, produksi padi atau beras menjadi produksi yang sehat untuk dikonsumasi.
Sementara jumlah produksinya juga tidak kalah dengan pertanian yang menggunakan pestisida.
“Petani disini selalu aktif mengikuti sekolah tani di Balai Desa untuk meningkatkan pengetahuanya dalam menerapkan pertanian alami atau organik,” kata Kasi Pemerintahan Desa Besur, Muhlis,
Muhlis mencontohkan, saat ini petani sudah tidak lagi menggunakan pestisida dalam membasmi hama yang menyerang tanaman padi.
Mereka justru memanfaatkan agen hayati untuk mengusir hama tersebut.
Dari penggunaan hayati ini, tidak hanya hasil beras menjadi sehat, tapi biayanya perawatan menjadi sangat murah dibanding dengan penggunaan pestisida.
Misalnya jika menggunakan pestisida maka pengeluaran petani mencapai Rp 400 ribu, namun dengan menggunkan agen hayati uang yang dikeluar petani tidak sampai Rp 100 ribu dalam satu hektarnya.
Menurutnya, revolusi dari pertanian kimia ke pertanian alami tersebut berawal adanya serangan hama kepik hingga menyebabkan gagal panen pada tahun 2016 lalu.
Dari sinilah kemudian, seluruh petani dikumpulkan dan diberi penyuluhan dari Dinas Pertanian terkait Pengelolahan Hama Terpadu (PHT), termasuk beralih dari penggunaan pestisida ke agen hayati.
Apa yang dipraktikkan petani Besur ini mulai diikuti petani di desa-desa tetangga Desa Besur.
Dari Pertanian alami ini hasilnya semakin memakmurkan petani mengingat biaya perawatan hingga panen sangat murah, sedangkan harga hasil panennya sangat tinggi.